Metode Pembelajaran Bahasa Arab

Metode realis adalah metode yang berdasarkan prinsip bahwa mempelajari bahasa harus sebagaimana tingkah laku berbahasa yang sesungguhnya. ? Pencipta metode ini adalah Dr. Michael West Ciri-ciri utamanya adalah sebagai berikut:
1) Sejak permulaan pelajaran pembelajar harus diajar berbahasa sebagaimana tingkah laku berbahasa sesungguhnya.
2) Bahasa dipandang sebagai reaksi manusia terhadap alam sekitarnya. Keseluruhan reaksi itu mencakup kata-kata postur, mimik, gerak-gerik, intonasi, tekanan suara. serta bunyi- bunyi yang bersifat pernyataan lainnya. Semuanya ini harus diajarkan kepada pembelajar.
3) Tingkah laku berbahasa bukanlah keterampilan tambahan, melainkan merupakan bagian dari keseluruhan perbuatan berbahasa itu sendiri.
4) Pilihan kata-kata yang tepat dan penyusunan kata-kata itu secara logis digabungkan dengan penggunaan bahasa itu sesuai dengan tingkah laku berbahasa yang sesungguhnya.
5) Bahan diberikan dalam bentuk percakapan sesuai dengan struktur dan unsur-unsur dalam bentuk latihan dan cara-cara penyajian lainnya.
6) Penyusunan bahan dilakukan atas kerjasama yang baik antara pengajar dan ahli bahasa. Metode realis baik sekali dipakai dalam usaha menumbuhkan penguasaan bahasa, karena latihan-latihan yang diberikan sesuai dengan pola-pola tingkah laku berbahasa yang sesungguhnya dalam masyarakat.
Metode Alamiah (Natural Method)
Metode alamiah disebut orang juga dengan nama “Customary Method”. Prinsip yang menjadi landasannya adalah mengajarkan bahasa harus sesuai dengan kebiasaan anak anak belajar berbahasa ibunya. Proses alamiah inilah yang harus dijadikan landasan dalam setiap langkah yang ditempuh pengajaran bahasa di sekolah. Proses alamiah yang dilalui pembelajaritu dapat digambarkan sebagai berikut
1) Kata-kata benda, kata-kata sifat dan kata-kata kerja dipelajari pembelajar selalu dalam hubungan langsung dengan benda-benda, sifat dan kerja yang digambarkan oleh kata-kata itu
1) Proses yang dilalui pembelajar mempelajari sesuatu mula-mula melalui apa yang didengarnya, bukan melalui apa yang dilihatnya. Pembelajar mengenal kata-kata seialu dengan menghubungkannya dengan bunyi-bunyi yang didengarnya terhadap benda benda, kerja atau sifat itu, bukan melalui gambaran kata-kata* tertulis yang ada dalam jiwanya yang harus dihubungkan dengan benda-benda, kerja atau sifat yang dilukiskan kata-kata itu.
2) Yang mula-mula dipelajari anak-anak adalah kelompok-kelompok bunyi yang umum, bukan bunyi-bunyi yang terpisah.
3) Setiap kata dipelajari anak-anak selalu dalam hubungan pemakaiannya. Anak melihat benda, menunjukkarihya, menyentuhnya, merabanya dan memakannya, mecium baunya dan sebagainya.
4) Dalam belajar berbahasa anak-anak selalu banyak membuat kesalahan itu selalu diperbaikinya, baik atas bantuan orang lain maupun atas kesadarannya sendiri. Kalau anak-anak mempelajari sesuatu yang salah, sebabnya tidak lain adalah karena contoh yang dipelajari itu salah pula.
5) Setiap saat selalu ada paksaan terhadap anak-anak agar ia belajar. Anak-anak selalu penuh dengan perasaan ingin tahu. Untuk keperluan itu ia terpaksa menggunakan bahasa.
6) Anak-anak belajar berbahasa dari banyak pengajar. Setiap orang yang ada disekitarnya adalah pengajar. Waktu untuk belajar tersedia sepanjang masa, dan untuk semuanya itu selalu tersedia alat peraganya.
7) Perbaikan terhadap apa yang telah dipelajarinya selalu terjadi terus menerus. Mereka selalu mendengar b’erulang-ulang bahasa yang dipakai orang-orang yang ada di sekitamya dan selalu hams menggunakan bahasa itu untuk menyampaikan keinginannya kepada orang-orang yang berhubungan dengan dia, sehingga bahasa itu dapat digunakannya secara otomatis.
Proses belajarnya berlangsung dengan penuh keragaman dan untuk semuanya itu selalu dilakukannya dengan penuh perhatian. Proses belajar anak-anak selalu hidup, mereka belajar sambil bermain-main, dan teman sepermainannya adalah pengajar.’
9) Bahasa yang dipelajarinya adalah bahasa yang hidup, bahasa yang terpakai sehari-hari dalam percakapan.
Proses pengajaran dengan metode ini adalah sebagai berikut:
a. Mula-mula ajarkanteh bahasa itu tanpa bantuan bahasa ibu pembelajar. Jangan dipakai buku pelajaran.
b. Tunjukkan benda atau gambarnya kalau mengajarkan kata-kata benda. Katakan kata kata itu dalam hubungan kalimat. Kalau kata kerja yang diajarkan, perlihatkan pekerjaannya dengan demonstrasi. Semuanya dilakukan tanpa bantuan bahasa ibu pembelajar.
c. Mengajarkan kata-kata, ajarkan lebih dulu bunyi-bunyinya. Setelah mereka kenal bunyinya. baru diajarkan tulisannya
d. Bahasa tertulis baru diajarkan setelah anak-anak kenal bun^i-hunyi katenya. Ini bahan vang diajarkan secara lisan harus diambil dari teks yang nanti akan dipakai dalam pelajaran berikutnya, dalam pelajaran membaca.
e. Kata-kata baru diajarkan dalam hubungan kalimat yang kata-katanya yang telah dikenal pembelajar sebelumnya.
f Dalam setiap pembelajaran ciptaan perbuatannya.
g. Setiap kesalahan yang diperbuat pembelajar harus selalu diperbaiki pengajar dengan cara yang bijaksana, sehingga tidak menyingung hati pembelajar
h. Pembelajar harus selalu berusaha agar pembelajarnya menggunakan bahasa itu untuk memenuhi keinginannya itu.
i. Harus diusahakan mengundang pengajar lain atau orang-orang lain utnuk berceramah atau pertemuan-pertemuan, sehingga pembelajar memperoleh kelebihan banyak contoh pemakaian bahasa.
j. Pembelajaran yang telah diberikan hendaklah selalu diusahakan mengulangi beberapa kali
k. Cara mengajar hendaklah banyak variasinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar